Powered by Blogger.
RSS

Demam



Demam adalah keadaan ketika suhu tubuh meningkat melebihi suhu tubuh normal. Demam adalah istilah umum, dan beberapa istilah lain yang sering digunakan adalah pireksia atau febris. Apabila suhu tubuh sangat tinggi (mencapai sekitar 40°C), demam disebut hipertermi.
Demam dapat disebabkan gangguan otak atau akibat bahan toksik yang mempengaruhi pusat pengaturan suhu. Zat yang dapat menyebabkan efek perangsangan terhadap pusat pengaturan suhu sehingga menyebabkan demam disebut pirogen. Zat pirogen ini dapat berupa protein, pecahan protein, dan zat lain, terutama toksin polisakarida, yang dilepas oleh bakteri toksik atau pirogen yang dihasilkan dari degenerasi jaringan tubuh dapat menyebabkan demam selama keadaan sakit.
Mekanisme demam dimulai dengan timbulnya reaksi tubuh terhadap pirogen. Pada mekanisme ini, bakteri atau pecahan jaringan akan difagositosis oleh leukosit darah, makrofag jaringan, dan limfosit pembunuh bergranula besar. Seluruh sel ini selanjutnya mencerna hasil pemecahan bakteri dan melepaskan zat interleukin-1 ke dalam cairan tubuh, yang disebut juga zat pirogen leukosit atau pirogen endogen. Interleukin-1 ketika sampai di hipotalamus akan menimbulkan demam dengan cara meningkatkan temperature tubuh dalam waktu 8 – 10 menit. Interleukin-1 juga menginduksi pembentukan prostaglandin, terutama prostaglandin E2, atau zat yang mirip dengan zat ini, yang selanjutnya bekerja di hipotalamus untuk membangkitkan reaksi demam.
Pada saat terjadi demam, gejala klinis yang timbul bervariasi tergantung pada fase demam, meliputi fase awal, proses, dan fase pemulihan (defesvescence). Tanda-tanda ini muncul sebagai hasil perubahan pada titik tetap dalam mekanisme pengaturan suhu tubuh.

Fase-fase Terjadinya Demam

Fase I: awal (awitan dingin atau menggigil)
· Peningkatan denyut jantung
· Peningkatan laju dan kedalaman pernafasan
· Menggigil akibat tegangan dan kontraksi otot
· Kulit pucat dan dingin karena vasokontriksi
· Merasakan sensasi dingin
· Dasar kuku mengalami sianosis karena vasokontriksi
· Rambut kulit berdiri
· Pengeluaran keringat berlebihan
· Peningkatan suhu tubuh
Fase II: proses demam
· Proses menggigil lenyap
· Kulit terasa hangat / panas
· Merasa tidak panas atau dingin
· Peningkatan nadi dan laju pernafasan
· Peningkatan rasa haus
· Dehidrasi ringan hingga berat
· Mengantuk, delirium, atau kejang akibat iritasi sel saraf
· Lesi mulut herpetik
· Kehilangan nafsu makan ( jika demam memanjang )
· Kelemahan, keletihan, dan nyeri ringan pada otot akibat katabolisme protein
Fase III: pemulihan
· Kulit tampak merah dan hangat
· Berkeringat
· Menggigil ringan
· Kemungkinan mengalami dehidrasi
Pada mekanisme tubuh alamiah, demam yang terjadi dalam diri manusia bermanfaat sebagai proses imun. Pada proses ini, terjadi pelepasan interleukin-1 yang akan mengaktifkan sel T. suhu tinggi ( demam ) juga berfungsi meningkatkan keaktifan ( kerja ) sel T dan B terhadap organisme pathogen. Namun konsekuensi demam secara umum timbul segera setelah pembangkitan demam (peningkatan suhu). Perubahan anatomis kulit dan metabolisme menimbulkan konsekuensi berupa gangguan keseimbangan cairan tubuh, peningkatan metabolisme, juga peningkatan kadar sisa metabolisme. Selain itu, pada keadaan tertentu demam dapat mengaktifkan kejang.

Penatalaksanaan Anak yang Mengalami Demam

Bila anak mengalami demam, yang dapat kita lakukan adalah :
1. Kenakan pakaian yang tipis pada anak, dan hanya gunakan seprai atau selimut tipis pada tempat tidur. Pakaian dan selimut yang berlapis-lapis hanya akan menyebabkan panas terperangkap serta dapat menyebabkan suhu badan naik.
2. Beri anak banyak minum. Anak-anak menjadi lebih mudah dehidrasi pada waktu menderita panas. Minum air membuat mereka merasa lebih baik dan mencegah dehidrasi.
3. Beri anak banyak istirahat, agar produksi panas yang diproduksi tubuh seminimal mungkin.
4. Beri kompres di beberapa bagian tubuh, seperti ketiak, lipatan paha, leher belakang.
5. Beri obat penurun panas seperti paracetamol, asetaminofen.




Berdasarkan gejala yang menyertainya tersebut, demam dapat dikategorikan menjadi:

1.  Demam ringan (+380C)
Merupakan respon dari mekanisme pertahanan tubuh, dan tidak berbahaya.

2.  Demam tinggi (>390C)
Disertai rasa tidak enak badan dan gelisah, kehilangan nafsu makan dan minum, hingga menimbulkan kondisi dehidrasi.

3.  Hiperpireksia atau demam sangat tinggi (>40,50C)
    Kondisi ini perlu penanganan yang cepat dan tepat, karena bisa menimbulkan komplikasi.
 

Penyakit yang seringkali menimbulkan gejala demam, yaitu penyakit infeksi seperti demam dengue dan demam berdarah dengue, tifus (demam tifoid), malaria, peradangan hati atau hepatitis, infeksi saluran kemih/kencing, dan penyakit infeksi lainnya.

Untuk mengetahui penyakit penyebab demam tersebut, diperlukan pemeriksaan fisik atau gejala klinis. Namun, pada penyakit tertentu terkadang tidak menunjukkan gejala-gejala yang khas dan kurang nyata sehingga diagnosis sulit ditegakkan. Oleh karena itu, pemeriksaan laboratorium berupa panel demam memiliki peran yang penting dalam hal ini, yakni untuk memastikan diagnosis tersebut, sehingga pengobatan pun dapat dilakukan dengan lebih tepat.
 

Panel demam merupakan sekumpulan pemeriksaan laboratorium yang dapat dimanfaatkan untuk mendiagnosis beberapa perubahan tubuh dan penyakit penyebab demam.
 

PANEL DEMAM 1

-         Hematologi Rutin : mendeteksi infeksi dan kelainan darah
-         Urin Rutin : mendeteksi infeksi saluran kemih/kencing
-         Malaria : mendeteksi malaria
-         Widal & Kultur Gal : mendeteksi tifus (demam tifoid)
-         Anti-Dengue IgG & IgM : mendeteksi demam berdarah
-         CRP Kuantitatif : mendeteksi infeksi atau peradangan dan membedakan infeksi yang disebabkan oleh bakteri atau virus
-         GOT & GPT : mengetahui fungsi hati


PANEL DEMAM 2 (khusus untuk demam berdarah)

-         Hematologi Rutin
-         Anti-Dengue IgG & IgM

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Adneksitis

Aktivitas seksual merupakan kebutuhan biologis setiap manusia untuk mendapatkan keturunan. Namun, masalah seksual dalam kehidupan rumah tangga seringkali mengalami hambatan atau gangguan karena salah satu pihak (suami atau isteri) atau bahkan keduanya, mengalami gangguan seksual. Jika tidak segera diobati, masalah tersebut dapat saja menyebabkan terjadinya keretakan dalam rumah tangga. Oleh karena itu, alangkah baiknya apabila kita dapat mengenal organ reproduksi dengan baik sehingga kita dapat melakukan deteksi dini apabila terdapat gangguan pada organ reproduksi. Organ reproduksi pada wanita dibedakan menjadi dua, yaitu organ kelamin dalam dan organ kelamin luar. Organ kelamin luar memiliki dua fungsi, yaitu sebagai jalan masuk sperma ke dalam tubuh wanita dan sebagai pelindung organ kelamin dalam dari organisme penyebab infeksi. Saluran kelamin wanita memiliki lubang yang berhubungan dengan dunia luar, sehingga mikroorganisme penyebab penyakit bisa masuk dan menyebabkan infeksi kandungan salah satunya adalah radang yang terjadi akibat infeksi yang menjalar keatas dari uterus dan bisa datang dari tempat ekstra vaginal lewat jalan darah, atau menjalar dari jaringan-jaringan sekitarnya dan biasa disebut dengan adneksitis. Menurut (Winkjosastro,Hanifa.Hal.396,2007) prevalensi adneksitis di Indonesia sebesar 1 : 1000 wanita dan rata-rata terjadi pada wanita yang sudah pernah melakukan hubungan seksual.Adneksitis bila tidak ditangani dengan baik akan menyebar keorgan lain disekitarnya seperti misalnya ruptur piosalping atau abses ovarium,dan terjadinya gejala-gejala ileus karena perlekatan, serta terjadinya appendisitis akuta dan salpingo ooforitis akuta. Maka dari itu sangat diperlukan peran tenaga kesehatan dalam membantu perawatan klien adneksitis dengan baik agar radangnya tidak menyebar ke organ lain dan para tenaga kesehatan dapat memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif.Salah satu tenaga kesehatan yang dapat memberikan asuhan secara komprehensif yaitu bidan melalui asuhan kebidanan yang sudah dimilikinya. Beberapa peran bidan diantaranya yaitu peran bidan sebagai pengelola dimana bidan memiliki beberapa tugas salah satunya tugas kolaborasi. Didalam kolaborasi ini bidan harus menerapkan manajemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan sesuai fungsi kolaborasi dengan melibatkan klien dan keluarga serta memberikan asuhan kebidanan secara komprehensif dan pertolongan pertama pada kegawatdaruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi dengan tim medis lain. (Soepardan,Suryani.Hal 38.2008). Oleh karena itu pada kesempatan kali ini kami akan membahas secara lebih dalam tentang adneksitis dan penatalaksanaannya dengan konsep asuhan kebidanan.
B.Rumusan Masalah
“Bagaimana penatalaksanaan klien adneksitis dengan konsep asuhan kebidanan secara komprehensif ?”
C.Tujuan
1.Tujuan umum
Tujuan umum dari kami mempelajari kasus ini adalah untuk mengaplikasikan konsep asuhan kebidanan secara komprehensif pada klien adneksitis.
2.Tujuan khusus
a. Untuk mengetahui pengertian adneksitis.
b. Untuk mengetahui gejala dan tanda adneksitis.
c. Untuk mengetahui penyebab terjadinya adneksitis.
d. Untuk mengetahui patofisiologis dan penanganan adneksitis.
e. Untuk menerapkan asuhan kebidanan pada kasus adneksitis
D.Manfaat
Manfaat dari mempelajari kasus ini adalah :
1. Bagi mahasiswa
Mahasiswa dapat mempeerluas khasanah ilmu dan keterampilan klinik yang lebih luas terutama dalam melakukan asuhan kebidanan pada klien dengan adneksitis.
2. Bagi klien dan keluarga
Dapat terpenuhi kebutuhan psikologis, sosial, spritual serta dapat meningkatkan tingkat status kesehatan dan dapat memberikan support bagi klien dan keluarga.
3. Bagi tenaga kesehatan
diharapkan agar dapat melakukan asuhan kebidanan dengan baik dan benar.
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Pengertian Adneksitis
Adneksitis atau Salpingo-ooforitis adalah radang pada tuba falopi dan radang ovarium yang terjadi secara bersamaan, biasa terjadi karena infeksi yang menjalar ke atas sampai uterus, atau akibat tindakan post kuretase maupun post pemasangan alat kontrasepsi (IUD) (Sarwono.Winkjosastro, Hanifa.Hal 287.2007). Adnexa atau salpingo-ooporitis terbagi atas :
1.Salpingo ooporitis akuta
Salpingo ooporitis akuta yang disebabkan oleh gonorroe sampai ke tuba dari uterus sampai ke mukosa. Pada gonoroe ada kecenderungan perlekatan fimbria pada ostium tuba abdominalis yang menyebabkan penutupan ostium itu. Nanah yang terkumpul dalam tuba menyebabkan terjadi piosalping. Pada salpingitis gonoroika ada kecenderungan bahwa gonokokus menghilang dalam waktu yang singkat, biasanya 10 hari sehingga pembiakan negative. Salpingitis akut banyak ditemukan pada infeksi puerperal atau pada abortus septic ada juga disebabkan oleh berbagai tierti kerokan. Infeksi dapat disebabkan oleh bermacam kuman seperti streptokokus ( aerobic dan anaaerobic ), stafilokokus, e. choli, clostridium wechii, dan lain-lain. Infeksi ini menjalar dari servik uteri atau kavum uteri dengan jalan darah atau limfe ke parametrium terus ke tuba dan dapat pula ke peritoneum pelvic. Disini timbul salpingitis interstitial akuta ; mesosalping dan dinding tuba menebal dan menunjukkan infiltrasi leukosit, tetapi mukosa sering kali normal. Hal ini merupakan perbedaan yang nyata dengan salpingitis gonoroika, dimana radang terutama terdapat pada mukosa dengan sering terjadi penyumbatan lumen tuba.( Sarwono. Winkjosastro, Hanifa.Hal 287.2007).
2.Salpingo ooporitis kronika
Dapat dibedakan pembagian antara:
a. Hidrosalping
Pada hidrosalping terdapat penutupan ostium tuba abdominalis. Sebagian dari epitel mukosa tuba masih berfungsi dan mengeluarkan cairan akibat retensi cairan tersebut dalam tuba. Hidrosalping sering kali ditemukan bilateral, berbentuk seperti pipa tembakau dan dapat menjadi sebesar jeruk keprok. Hidrosalping dapat berupa hidrosalping simpleks dan hidrosalping follikularis. Pada hidrosalping simpleks terdapat satu ruangan berdinding tipis, sedang hidrosalping follikularis terbagi dalam ruangan kecil.(Sarwono.Winkjosastro, Hanifa.Hal 289.2007).
b.Piosalping
Piosalping dalam stadium menahun merupakan kantong dengan dinding tebal yang berisi nanah. Pada piosalping biasanya terdapat perlekatan dengan jaringan disekitarnya. Pada salpingitis interstialis kronika dinding tuba menebal dan tampak fibrosis dan dapat pula ditemukan pengumpulan nanah sedikit di tengah – tengah jaringan otot. (Sarwono.Winkjosastro, Hanifa.Hal 289.2007).
c.Salpingitis interstisialis kronika
Pada salpingitis interstialis kronika dinding tuba menebal dan tampak fibrosis dan dapat pula ditemukan pengumpulan nanah sedikit ditengah-tengah jaringan otot.Terdapat pula perlekatan dengan-dengan jaringan-jaringan disekitarnya, seperti ovarium, uterus, dan usus.(Sarwono. Winkjosastro, Hanifa.Hal 289.2007).
d.Kista tubo ovarial, abses tubo ovarial.
Pada kista tubo ovarial, hidrosalping bersatu dengan kista folikel ovarium, sedang pada abses tubo ovarial piosalping bersatu dengan abses ovarium.Abses ovarium yang jarang terdapat sendiri,dari stadium akut dapat memasuki stadium menahun.(Sarwono.Winkjosastro, Hanifa.Hal 289.2007).
e.Salpingitis tuberkulosa
Salpingitis tuberkulosa merupakan bagian penting dari tuberkulosis genetalis.(Sarwono.Winkjosastro, Hanifa.Hal 289,2007).
B.Etiologi (penyebab)
Pada wanita rongga perut langsung berhubungan dengan dunia luar dengan perantara traktus genetalia. Radang atau infeksi rongga perut disebabkan oleh :
1. Sifat bactericide dari vagina yang mempunyai pH rendah.
2. Lendir yang kental dan liat pada canalis servicalis yang menghalangi naiknya kuman-kuman.
(Djuanda Adhi, Prof. DR. Hamzah Mochtar, Dr. Aisah Siti,DR ; Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, 1987, Hal. 103-106, 358-364).
Menurut (Djuanda Adhi,Hal 358-364,1987) Radang alat genetalia mungkin lebih sering terjadi di negara tropis, karena:
1. Hygiene belum sempurna.
2. Perawatan persalinan dan abortus belum memenuhi syarat-syarat.
3. Infeksi veneris belum terkendali.
Infeksi alat kandungan/genetalia dapat menurunkan fertilitas, mempengaruhi keadaan umum dan mengganggu keadaan sex. Sebab yang paling banyak terdapat adalah infeksi gonorroe dan infeksi puerperal dan postabortum. Kira-kira 10% infeksi disebabkan oleh tuberculosis. Selanjutnya bisa timbul radang adnexa yang paling sering disebabkan oleh gonococcus, disamping itu oleh stapylococus, streptococcus, E.Coli, clostridoium welchi dan bakteri sebagai akibat tindakan kerokan, laparotomi, pemasangan IUD serta perluasan radang dari alat yang letaknya tidak jauh seperti appendiks (Sarwono.Wiknjosastro, Hanifa, Hal 287.2007). Ditemukan 1:1000 kasus operasi ginekologik abdominal,dapat dijumpai pada semua umur (dari 19-80 tahun),dengan rata-rata puncaknya pada usia 52 tahun dan terjadi pada wanita yang sudah pernah melakukan hubungan seksual (Sarwono Winkjosastro, Hanifa. Hal 396. 2007).
C.Patofisiologi
1. Radang tuba fallopii dan radang ovarium biasanya terjadi bersamaan. Radang itu kebanyakan akibat infeksi yang menjalar ke atas dari uterus, walaupun infeksi ini juga bisa datang dari tempat ekstra vaginal lewat jalan darah, atau menjalar dari jaringan – jaringan sekitarnya.(Sarwono.Winkjosastro, Hanifa. Hal 287.2007).
2. Pada salpingo ooforitis akuta gonorea ke tuba dari uterus melalui mukosa. Pada endosalping tampak edema serta hiperemi dan infiltrasi leukosit, pada infeksi yang ringan epitel masih utuh, tetapi pada infeksi yang lebih berat kelihatan degenarasi epitel yang kemudian menghilang pada daerah yang agak luas dan ikut juga terlihat lapisan otot dan serosa.Dalam hal yang akhir ini dijumpai eksudat purulen yang dapat keluar melalui ostium tuba abdominalis dan menyebabkan peradangan di sekitarnya.(Sarwono.Winkjosastro, Hanifa.Hal 287.2007).
3. Infeksi ini menjalar dari serviks uteri atau kavum uteri dengan jalan darah atau limfe ke parametrium terus ke tuba dan dapat pula ke peritonium pelvik. Disini timbul salpingitis interstialis akuta, mesosalping dan dinding tuba menebal menunjukkan infiltrasi leukosit, tetapi mukosa seringkali normal. (Sarwono.Winkjosastro, Hanifa Hal 287. 2007).
D.Tanda dan Gejala
1. Gambaran klinik salpingo ooforitis akuta ialah demam, leukositosis dan rasa nyeri disebelah kanan atau kiri uterus, penyakit tersebut tidak jarang dijumpai terdapat pada kedua adneksa, setelah lewat beberapa hari dijumpai pula tumor dengan batas yang tidak jelas dan nyeri tekan. Pada pemeriksaan air kencing biasanya menunjukkan sel-sel radang pada pielitis. Pada torsi adneksa timbul rasa nyeri mendadak dan apabila defence musculaire tidak terlalu keras, dapat diraba nyeri tekan dengan batas nyeri tekan yang nyata.(Sarwono. Winkjosastro, Hanifa. Hal 288.2007).
2. Gejala – gejala salpingo ooforitis kronika tidak selalu jelas, penyakit bisa didahului oleh gejala – gejala penyakit akut dengan panas, rasa nyeri cukup kuat di perut bagian bawah, akan tetapi bisa pula dari permulaan sudah subakut atau menahun. Penderita pada umumnya merasa nyeri di perut bagian bawah sebelah kiri atau kanan, yang bertambah keras pada pekerjaan berat, disertai dengan penyakit pinggang. Haid pada umumnya lebih banyak dari biasanya dengan siklus yang sering kali tidak teratur, penderita sering mengeluh tentang dispareunia dan infertilitas dan dapat pula ditemukan dismenorea. ( Sarwono. Winkjosastro, Hanifa.Hal 289.2007).
E.Komplikasi
Pembedahan pada salpingo-ooforitis akuta perlu dilakukan apabila:
1. Jika terjadi ruptur atau abses ovarium.
2. Jika terjadi gejala-gejala ileus karena perlekatan.
3. Jika terjadi kesukaran untuk membedakan antara apendiksitis akuta dan adneksitis akuta.
Gejala; nyeri kencing, rasa tidak enak di bawah perut, demam, ada lendir/bercak keputihan di celana dalam yang terasa panas, infeksi yang mengenai organ-organ dalam panggul/ reproduksi. Penyebab infeksi lanjutan dari saluran kencing dan daerah vagina.(Sarwono.Winkjosatro, Hanifa. Hal 288.2007).Selain itu komplikasi yang terjadi dapat berupa appendisitis akuta, pielitis akuta, torsi adneksa dan kehamilan ektopik yang terganggu. Biasanya lokasi nyeri tekan pada appendisitis akuta (pada titik Mac Burney) lebih tinggi daripada adneksitis akuta, akan tetapi apabila proses agak meluas perbedaan menjadi kurang jelas(Sarwono.Winkjosastro,Hanifa.Hal 288.2007).
F.Penatalaksanaan Medis
Terapi sederhana dapat dilakukan dengan duduk diantara 2 sujud, dua tangan dikepala dipinggang, tarik nafas tangan ke pangkal paha lalu badan bungkuk, tangan putar simpan di pantat bawah dan tahan nafas dada dan keluar nafas dihidung badan tegak tangan ke paha dan simpan dipinggang 30 menit. Jika penyakitnya masih dalam keadaan subakut, penderita harus diberi terapi dengan antibiotika dengan spektrum luas. Jika keadaan sudah tenang, dapat diberi terapi diatermi dalam beberapa seri dan penderita dinasehatkan supaya jangan melakukan pekerjaan yang berat-berat. Dengan terapi ini biarpun sisa-sisa peradangan masih ada, keluhan-keluhan penderita seringkali hilang atau sangat berkurang. Sudah barang tentu perlekatan-perlekatan tetap ada dan ini menyebabkan bahwa keluhan-keluhan tidak dapat hilang sama sekali.(Sarwono.Winkjosastro, Hanifa.Hal 290.2007).
Terapi operatif mempunyai tempat pada salpingo-ooforitis konika. Indikasi terapi ini adalah:
1.Apabila setelah berulang kali dilakukan terapi dengan distermi keluhan tetap ada dan mengganggu kehidupan sehari-hari.
2.Apabila tiap kali timbul reaktivisasi dari proses radang.
3.Apabila ada tumor disebelah uterus dan setelah dilakukan beberapa seri terapi diatermi tuor tidak mengecil, sehingga timbul dugaan adanya hidrosalping, piosalping, kista tubo-ovarial dan sebagainya.
4.Apabila ada infertilitas yang sebabnya terletak pada tuba, dalam hal ini sebaiknya dilakukan laparoskopi dahulu untuk mengetahui apakah ada harapan yang cukup besar bahwa dengan pembedahan tuba dapat dibuka dengan sempurna dan perlekatan dapat dilepaskan.
Terapi operatif kadang-kadang mengalami kesukaran berhubung dengan perlekatan yang erat antara tuba/ ovarium dengan uterus, omentum dan usus, yang memberi harapan yang terbaik untuk menyembuhkan penderita ialah operasi radikal, terdiri atas histerektomi dan salpingo-ooforektomi bilateral. Akan tetapi, hal ini hanya dapat dilakukan pada wanita yang hampir menopause. Pada wanita yang lebih muda satu ovarium untuk sebagian atau seluruhnya perlu ditinggalkan, kadang-kadang uterus harus ditinggalkan dan hanya adneksa dengan kelainan yang nyata diangkat. Jika operasi dilakukan atas dasar indikasi infertilitas, maka tujuannya adalah untuk mengusahakan supaya fungsi tuba pulih kembali. Perlu dipikirkan kemungkinan diadakan in vitro fertilization.
Terapi pada salpingo-ooforitis akuta bisa juga dilakukan dengan istirahat baring, perawatan umum, pemberian antibiotika dan analgetika. Dengan terapi tersebut penyakit menjadi sembuh atau menahun. Jarang sekali salpingo-ooforitis akuta memerlukan terapi pembedahan.(Sarwono.Winkjosastro, Hanifa.Hal 290.2007)
BAB III
PEMBAHASAN
Dari tinjauan kasus diatas didapatkan bahwa Klien Ny. SDL, seorang wanita dengan keluhan nyeri cukup kuat di perut bagian bawah disertai dengan demam, rasa nyeri bertambah keras pada saat melakukan pekerjaan yang berat-berat dan disertai dengan sakit pinggang dan keputihan hal itu dikategorikankan kedalam golongan adneksitis kronika (salpingo ooforitis kronika). Hal ini sesuai dengan teori (Sarwono.Wiknjosastro, Hanifa.Hal 289.2007) yang menyatakan bahwa wanita dengan gejala – gejala penyakit akut dengan panas, rasa nyeri cukup kuat di perut bagian bawah. Pada umumnya penderita merasa nyeri di perut bagian bawah sebelah kiri atau kanan, yang bertambah keras pada pekerjaan berat, disertai dengan sakit pinggang ,haid tidak teratur dan sering keputihan.
Penyebab dari adneksitis kronika itu sendiri itu adalah infeksi gonorroe, infeksi puerperal dan postabortum. Kira-kira 10% infeksi disebabkan oleh tuberculosis. Selanjutnya bisa timbul radang adnexa yang paling sering disebabkan oleh gonococcus, disamping itu oleh stapylococus, streptococcus, E.Coli, clostridoium welchi dan bakteri sebagai akibat tindakan kerokan, laparotomi, pemasangan IUD serta perluasan radang dari alat yang letaknya tidak jauh seperti appendiks (Sarwono. Wiknjosastro, Hanifa.Hal 287.2007). Yang perlu kita ketahui bahwa adneksitis hanya terjadi pada wanita yang sudah menikah atau pada wanita yang sudah pernah melakukan hubungan seksual. Untuk kasus yang kita angkat ini diterangkan bahwa ibu dengan inisial Ny.SDL status nya adalah sudah menikah. Pada kasus ini kemungkinan besar bahwa infeksi disebabkan oleh infeksi hal ini dapat didasarkan pada seringnya ibu terkena keputihan dan haid yang tidak teratur sejak 2 bulan terakhir .
Untuk penatalaksanaan medis terapi yang dapat diberikan adalah dengan memberikan pasien kompres hangat untuk mengurangi rasa sakit. Selain itu dapat pula dilakukan dengan istirahat baring, perawatan umum, pemberian antibiotika dan analgetika. Dengan terapi tersebut penyakit menjadi sembuh atau menahun. Jarang sekali salpingo-ooforitis akuta memerlukan terapi pembedahan (Winkjosastro,Hanifa.Hal 288.2007). Pada kasus adneksitis kronika yang diderita oleh Ny.SDL terapi yang diberikan adalah pemberian antibiotik jenis Amoxan 3×1 amp, Gentamicin 2×80 gr, dan infus Mitronidazole 3×500 gr (diberikan secara IV) dan analgetika jenis Antrain 3×1 amp (Diberikan secara IV), perawatan umum. Selain itu pasien dianjurkan untuk istirahat baring. Jika keadaan sudah tenang, dapat diberi terapi diatermi dalam beberapa seri dan penderita dinasehatkan supaya jangan melakukan pekerjaan yang berat-berat. Hal ini sesuai dengan teori (Menurut Sarwono. Winkjosastro,Hanifa.Hal 288.2007), yang menyatakan bahwa untuk penatalaksanaan medis terapi yang dapat diberikan adalah dengan memberikan pasien kompres hangat untuk mengurangi rasa sakit. Selain itu dapat pula dilakukan dengan istirahat baring, perawatan umum, pemberian antibiotika dan analgetika.Dengan terapi ini biarpun sisa-sisa peradangan masih ada, keluhan-keluhan penderita seringkali hilang atau sangat berkurang. Sudah barang tentu perlekatan-perlekatan tetap ada dan ini menyebabkan bahwa keluhan-keluhan tidak dapat hilang sama sekali (Sarwono.Winkjosastro, Hanifa.Hal 290.2007).
Adapun komplikasi dari salpingo ooforitis bila tidak ditangani dengan baik akan mengakibatkan terjadinya ruptur piosalping atau sbses ovarium, gejala – gejala ileus karena terjadi perlekatan, appendisitis akuta apendisitis akuta, pielitis akuta, torsi adneksa dan kehamilan ektopik yang terganggu. Pada Ny.SDL komplikasi tersebut tidak terjadi hal ini karena terapi yang diberikan sudah tepat dan sesuai sehingga ketika dilakukan USG untuk melihat organ lain disekitarnya hasilnya normal.
refrensi :http://kartikadewie.wordpress.com/2011/01/07/adneksitis


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Trichomonas vaginalis

Trikomoniasis
dan Penatalaksanaannya
AM Adam, Hardy Suwita
SMF Kulit dan Kelamin RSUD Lambuang Baji, Makassar
ABSTRAK
Trikomoniasis adalah infeksi Trichomonas vaginalis yang merupakan protozoa
patogen pada saluran genito-urinaria manusia. Berbagai macam gejala klinis dapat
ditemukan baik pada wanita maupun pria dan diagnosis pasti adalah dengan
menemukan organisme ini. Hingga saat ini metronidasol masih merupakan obat pilihan
untuk trikomoniasis.
Kata kunci: Trikomoniasis, Penatalaksanaan.
PENDAHULUAN
Trichomonas vaginalis merupakan protozoa patogen
(1,2)
yang umumnya ditemukan pada saluran genitourinaria
manusia. Penularan biasanya melalui hubungan kelamin;
organisme ini dapat menyebabkan vaginitis pada wanita dan
uretritis non gonore pada pria
(1)
.
Pada tahun 1836 Donne menemukan Trichomonas
vaginalis pada duh tubuh vagina yang segar. Beberapa peneliti
selama 30 tahun terakhir ini memperlihatkan bahwa
Trichomonas vaginalis merupakan patogen urogenital penting
yang dapat menular secara seksual
(1,3)
.
Azomycin (2 nitroimidazol) yang ditemukan oleh Naka-
mura (1955)
, mempunyai efek trikomoniasida, sehingga
disintesis secara kimia. Salah satunya adalah 1-
-
hydroxyethyl-2-methyl-5 nitroimidazol, sekarang dikenal se-
bagai metronidazol, diketahui memiliki aktivitas tinggi secara
in vitro terhadap Trichomonas vaginalis. Metronidazol mem-
punyai spektrum yang luas terhadap protozoa dan sebagai
antimikroba
(4)
.
Sejak tahun 1958, metronidazol sudah dikenal di seluruh
dunia sebagai kemoterapi untuk Trichomonas vaginalis
(5)
.
Baru-baru ini dilaporkan beberapa kasus kegagalan peng-
obatan ulang dengan metronidazol yang menandakan adanya
strain dengan resistensi tinggi
(6)
. Kurangnya pengobatan alter-
natif untuk infeksi Trichomonas vaginalis yang resisten ter-
hadap metronidazol menyebabkan peningkatan dosis dan
usaha untuk lebih mengetahui farmakodinamik pada peng-
gunaan nitroimidazol
(7)
.
Peningkatan risiko terkena trikomoniasis terdapat pada
individu yang mempunyai pasangan seksual yang banyak,
higiene yang buruk dan sosial ekonomi yang rendah
(1)
.
EPIDEMIOLOGI
Prevalensi Trichomonas vaginalis sebesar 5-10% pada
populasi umum wanita
(1)
, 50-60% pada wanita penghuni pen-
jara dan pekerja seks komersial
(1,2)
.
Pada wanita yang mempunyai keluhan pada vagina,
prevalensi Trichomonas vaginalis antara 18-50%; dan pada 30-
50% wanita dengan gonore juga ditemukan infeksi Tricho-
monas vaginalis. Prevalensi infeksi Trichomonas vaginalis
pada pria yang mengunjungi klinik penyakit menular seksual
sebanyak 6%. Infeksi Trichomonas vaginalis pada pria selalu
dihubungkan dengan uretritis non gonore, dengan prevalensi
antara 1-68%
(1)
.
Pada skrining serologis yang dilakukan pada orang-orang
yang terlihat sehat di rumah sakit, diperkirakan sebanyak
1
/
3
dari seluruh wanita mengidap agen ini selama masa aktif
seksualnya
(2)
. Trichomonas vaginalis ditemukan pada lebih
dari 30% saluran urogenital pria yang pasangan wanitanya
terinfeksi Trichomonas vaginalis
(4)
.
Di Eropa Timur infeksi Trichomonas vaginalis sekurang-
Cermin Dunia Kedokteran No. 139, 2003 37
background image
kurangnya 25% ditemukan pada kasus uretritis non gonore. Di
Zimbabwe 5,5% infeksi Trichomonas vaginalis terjadi pada
pria dan 10-50% infeksi Trichomonas vaginalis pada wanita
bersifat asimtomatik
(3)
. Di Lods, Polandia, pada pemeriksaan
urin penderita pria dengan usia 18-60 tahun ditemukan 1,74%
terinfeksi Trichomonas vaginalis sedangkan pada wanita usia
18-60 tahun ditemukan 10,67%. Di Inggris Barat, 5,3% wanita
yang datang ke klinik ginekologi terinfeksi Trichomonas
vaginalis dan 21,3% penderita yang datang ke bagian penyakit
menular seksual mengandung organisme ini. Di Amerika, pada
465 pekerja asuransi didapatkan 6,3% wanita yang menikah
dari 1,4% wanita tidak menikah mengidap Trichomonas
vaginalis. Sebagian besar pekerja seks komersial atau peng-
guna obat (70%) mem-punyai Trichomonas vaginalis. Pada
wanita kulit hitam diperkirakan 2-8 kali lebih banyak ditemu-
kan Trichomonas vaginalis dibandingkan wanita kulit putih
(8)
.
Infeksi paling sering terjadi pada dekade II dan III, tetapi
dapat terjadi pada setiap umur dan pernah dilaporkan hampir
17% bayi usia 1 hari  11 bulan telah terinfeksi Trichomonas
vaginalis
(9)
.
ETIOLOGI
Trikomonas adalah suatu organisme eukaryotik yang
termasuk kelompok mastigophora
(10)
, mempunyai flagel,
dengan ordo trichomonadida. Terdapat lebih dari 100 spesies,
sebagian besar trichomonas merupakan organisme komensal
pada usus mamalia dan burung. Terdapat 3 spesies yang sering
ditemukan pada manusia yaitu Trichomonas vaginalis yang
merupakan parasit pada saluran genitourianaria, Trichomonas
tenax dan Pentatrichomonas hominis merupa-kan trichomonas
non patogen yang ditemukan di rongga mulut untuk
Trichomonas tenax dan usus besar untuk Pentatrichomonas
hominis
(1)
.
Nama Trichomonas vaginalis sebenarnya salah, karena
juga ditemukan di uretra wanita dan tidak jarang ditemukan di
uretra pria
(8)
. Organisme ini berbentuk oval atau fusiformi, atau
seperti buah pir
(1,8)
dengan panjang rata-rata 15 mm dengan
tanda khas selalu berpindah tempat. Intinya terletak anterior,
antara inti dan permukaan ujung yang lebih luas terdapat 1 atau
lebih struktur yang membulat yang disebut blepharoplasts dan
dari tempat inilah keluar keempat flagel
(8)
. Flagel kelima
berbentuk membran bergelombang yang berasal dari kompleks
kinetosomal dan terbentang sepanjang setengah dari organisme
ini
(1)
.
Pergerakannya dengan kedutan yang didorong oleh
keempat flagel anterior
(1)
, kecepatan dan aktivitas hentakan-
nya yang khas menyebabkan organisme ini mudah diidentifi-
kasi pada sediaan segar
(8)
. Trichomonas vaginalis tumbuh di
ling-kungan yang basah dengan suhu 35-37º C dengan pH
antara 4,9-7,5
(1)
. Trichomonas vaginalis tidak menyerang
jaringan di sebelah bawah dinding vagina, ia hanya ada di
rongga vagina; sangat jarang ditemui di tempat lain. Ling-
kungan vagina sangat disukai oleh organisme ini
(10)
.
Trichomonas vaginalis dapat menimbulkan reaksi radang
pada rongga vagina yang didominasi oleh sel lekosit polymor-
phonuclear (PMN). Trichomonas vaginalis dan ekstraknya
dapat merangsang kemotaktik sel lekosit PMN, yang mungkin
mempengaruhi perkembangan gejalanya
(3)
.
Mekanisme lengkap penghancuran sel epitel vagina yang
diserang oleh Trichomonas vaginalis belum diketahui dengan
pasti
(3)
.
Terdapat 3 kemungkinan untuk timbulnya spektrum klinis
yang luas pada penyakit ini:
1. Terdapat variasi virulensi intrinsik di antara strain tricho-
monas yang berbeda
(3,10)
.
2. Perbedaan kerentanan epitel vagina di antara penderita dan
juga pada penderita yang sama pada waktu yang lama
(3,10)
.
3. Terdapat perbedaan lingkungan mikro vagina yang mem-
pengaruhi gejala klinisnya
(3)
.
Pria yang mengandung Trichomonas vaginalis sebagian
besar asimtomatik dan respon radang pada uretra pria biasa-
nya tidak ditemukan. Hal ini berhubungan dengan epitel
kuboid pada uretra. Trichomonas vaginalis dapat menginfeksi
epitel skuamosa pada vagina tetapi hanya yang rentan saja
(3)
.
Cara menghilangkan Trichomonas vaginalis dari saluran
urogenital pria belum diketahui pasti, tetapi mungkin organis-
me hilang secara mekanik pada waktu buang air kecil dan
adanya seng di dalam cairan normal prostat dapat dengan cepat
membunuh trichomonas
(3)
.
PENULARAN
Trichomonas vaginalis menular melalui hubungan sek-
sual
(1,9,11)
meskipun masih diperdebatkan
(1)
. Trichomonas
vaginalis dapat hidup pada obyek yang basah
(11)
selama 45
menit pada kloset duduk, kain lap pencuci badan, baju, air
mandi
(1)
dan cairan tubuh
(11)
. Penularan perinatal terjadi kira-
kira 5% dari ibu yang terinfeksi
(1,11)
tetapi biasanya sembuh
sendiri dengan metabolisme yang progresif dari hormon ibu
(1)
.
Infeksi Trichomonas vaginalis mempunyai masa inkubasi
selama 4-21 hari
(9)
.
GEJALA KLINIS
Pada wanita
·
·
·
Vaginitis
Adanya duh tubuh vagina yang encer berwarna kuning
kehijauan
(1,11)
dan purulen merupakan gambaran yang karak-
teristik untuk vaginitis trichomonal
(1)
. Bau vagina yang
abnormal, pruritus, vulva yang kemerahan dan membengkak,
petechiae pungtata pada serviks (strawberry cervix)
(9,11-14)
.
Lebih dari setengah wanita yang terinfeksi mempunyai gejala
klinis
(11)
, difus, ekskoriasi pada bagian dalam paha
(8)
. Pen-
derita mungkin juga mengeluh disparenia dan pada waktu
pemasangan spekulum terasa sakit
(8,14)
serta edema vestibulum
dan labia minor mungkin ditemukan
(12)
.
Uretritis
Kira-kira setengah kasus vaginitis trikomonalis juga me-
ngenai uretra. Keadaan ini mungkin asimtomatik atau me-
nyebabkan disuria
(8)
.
Skenitis dan bartolinitis
Skenitis dan bartolinitis dengan pembentukan abses
mungkin berhubungan dengan trikomoniasis dan kadang-
Cermin Dunia Kedokteran No. 139, 2003
38
background image
kadang Trichomonas vaginalis dapat diisolasi dari sekreti
organ ini
(8)
, infeksi kedua kelenjar ini sangat jarang terjadi
(9)
.
Pada pria
Penemuan secara langsung Trichomonas vaginalis dengan
menggunakan mikroskop sukar pada genitalia pria atau sampel
urin
(1)
. Sebagian besar pria yang terinfeksi tidak mempunyai
gejala
(3,8,11,13)
. Bila bergejala kebanyakan berupa duh tubuh
ure-tra yang seperti susu dan sakit bila buang air kecil
(11)
sehingga memberikan gejala sebagai uretritis non gonore
(3,13)
.
Diagnosis dibuat dengan menemukan organisme ini pada duh
tubuh uretra dengan hapusan atau kultur atau keduanya
(8)
.
LABORATORIUM
Pemeriksaan mikroskop secara langsung
Dengan sediaan basah dapat ditemukan protozoa dengan
4-5 flagel dan ukuran 10-20
µm
(11)
yang motil
(1,9)
.
Pada wanita metode ini mempunyai sensitifitas 50-
70%
(1,3,5)
dan spesimen harus diambil dari vagina karena agen
penyebab hanya menyerang epitel skuamosa
(1,11)
. Pada pria
cara penemuan Trichomonas vaginalis tidak selalu berhasil
(11)
dan Trichomonas vaginalis dapat dideteksi dengan meng-
gunakan sedimen urin
(1,11)
.
Cara lain menggunakan pewarnaan Gram, Giemsa, Papa-
nicolaou, Periodic acid schiff, Acridine orange, Fluorescein,
Neutral red dan Imunoperoxidase
(1)
.
Kultur
Teknik kultur menggunakan berbagai cairan dan media
semi solid yang merupakan baku emas untuk diagnosis
(1)
.
Biasanya dengan menggunakan medium Feinberg-Whittington
memberikan hasil yang dapat dipercaya
(9)
. Teknik kultur ini
mempunyai sensitifitas kira-kira 97%
(3)
.
Metode serologi
Beberapa studi mengatakan bahwa uji serologis kurang
sensitif daripada kultur atau pemeriksaan sediaan basah
(1)
. Pada
metode serologi ini dapat digunakan teknik ELISA, tes latex
agglutination yang menggunakan antibodi poliklonal
(3)
.
Antigen detection immunoassay yang menggunakan antibodi
monoklonal dan nucleic acid base test
(1)
.
DIAGNOSIS
Diagnosis trikomoniasis masih merupakan suatu masalah,
sebab gambaran klinis trikomoniasis tidak dapat dipercaya se-
bagai petunjuk diagnosis, karena kurang sensitif dan spesifik.
Diagnosis efektif trikomoniasis tergantung pada identifikasi
organismenya
(3,8)
. Spesimen dari uretra jarang digunakan bila
dibandingkan yang berasal dari vagina
(8)
.
PENGOBATAN
Pengobatan trikomoniasis vagina tidaklah semudah hu-
bungan langsung antara kerentanan organisme terhadap metro-
nidazol dengan dosis obat, tetapi mungkin tergantung pada
interaksi kompleks beberapa faktor yang meliputi: kerentanan
obat terhadap trichomonas, kadar obat setempat, potensial
redoks intravagina (yang mungkin mengatur jumlah obat yang
diambil oleh parasit) dan mikroflora vagina yang menyertainya
(yang mungkin mengurangi jumlah obat se-tempat).
Metronidazol masih tetapi sebagai obat pilihan untuk
trikomoniasis pada wanita dan pria
(1,8,15)
. Tidak ada peng-
obatan alternatif yang efektif selain metronidazol
(13)
.
Metronidazol bekerja dengan cara menghambat sintesis
DNA pada Trichomonas vaginalis dan menyebabkan degra-
dasi DNA
(4)
yang berakibat putusnya untaian DNA dan tidak
stabil-nya helix
(15)
, dengan cara mereduksi ferredixin-depleted
extract pada Trichomonas vaginalis melalui pyrovat ferredoxin
oxidoreductase dan diduga hasil reduksi ini yang bertanggung
jawab pada kematian sel
(15)
.
Metronidazol hampir sempurna diserap melalui usus
(16)
,
berpenetrasi dengan baik kedalam jaringan dan cairan tubuh
(vagina, semen, saliva dan ASI)
(4)
serta diekskresi sebagian
besar melalui urin
(16)
.
Rejimen yang dianjurkan
Metronidazol 2 g dosis tunggal, peroral
(1,4,8,11,13)
. Peng-
obatan ini sangat efektif dengan angka keberhasilan antara 82-
90%
(1,3,14,16)
. Pengobatan juga diberikan kepada pasangan
seksualnya dengan rejimen yang sama
(1,2,8)
. Jika pasangan
seksual-nya diobati bersama-sama maka angka kesembuhan
melebihi 95%. Angka reinfeksi 16-25% terjadi jika pasangan
seksualnya tidak diobati
(3)
. Penderita dan pasangan seksualnya
dianjurkan untuk tidak berhubungan seksual hingga dinyata-
kan sembuh
(1,13,14)
.
Rejimen alternatif
·
·
·
·
Metronidazol 500 mg, 2 kali sehari selama 7 hari. Rejimen
ini dianjurkan untuk penderita yang tidak sembuh dengan
pengobatan dosis tunggal
(1,13,14,16)
.
Metronidazol 2 g dosis tunggal selama 3-5 hari. Di-
anjurkan untuk penderita yang gagal dengan pengobatan
ulangan
(1,13)
. Rejimen metronidazol multidosis selama 7 hari
sangat efektif untuk penderita pria
(1)
.
Metronidazol 250 mg, 3 kali sehari selama 7 hari
(4,11)
. Di
Amerika Serikat digunakan selama 10 hari
(17)
.
Metronidazol 1 g, 2 kali sehari selama 1-2 hari
(14)
.
Fenobarbital dan kortikosteroid akan menurunkan kadar
metronidazol plasma
(16,18)
dan akan menurunkan aktifitas
metronidazol terhadap Trichomonas vaginalis
(18)
, sedangkan
cimetidine akan menaikan kadar metronidazol plasma
(16)
.
Kasus yang resisten secara klinis dapat diobati dengan
dosis 2-4 g metronidazol selama 3-14 hari
(2,7)
atau metro-
nidazol 2 g peroral setiap hari disertai 500 mg yang diberikan
intravagina
(3,7)
.
Hubungan antara sensitifitas Trichomonas vaginalis in
vitro dengan respon klinis terhadap kemoterapi mungkin lebih
ditentukan oleh kadar yang dicapai pada jaringan dinding
vagina daripada kadar dalam duh tubuh vagina, karena metro-
nidazol hanya sedikit terdapat di dalam duh tubuh vagina
(5)
.
Infeksi pada neonatus biasanya akan hilang secara spontan
dalam beberapa minggu. Jika gejala menetap hingga 4 minggu
setelah lahir, maka bayi harus diberi metronidazol dengan
dosis 5 mg/kgBB, 3 kali sehari selama 5 hari peroral
(16)
.
Kegagalan pengobatan infeksi Trichomonas vaginalis oleh
Cermin Dunia Kedokteran No. 139, 2003 39
background image
karena dosis yang tidak sama, kelainan penyerapan obat pada
usus atau adanya inaktivasi oleh flora vagina
(19)
, dan terjadinya
reinfeksi
(20)
.
Kehamilan dan laktasi
Metronidazol tidak digunakan pada awal kehamilan atau 3
bulan pertama kehamilan
(7,8,16,21)
. Untuk menghilangkan gejala-
nya dapat diberikan clotrimazol 100 mg/hari sebagai suposi-
toria vagina selama 7 hari
(3,16)
. Tidak ada bukti klinis yang
mendukung adanya kelainan fetus pada penggunaan metroni-
dazol oleh wanita hamil
(7,8,21)
. Pemberian ASI harus dihentikan
hingga 24 jam setelah pengobatan dihentikan, karena metroni-
dazol diekskresi kedalam susu
(16,21)
. Centre for Disease
Control menganjurkan wanita hamil yang men-derita
trikomoniasis diobati setelah trimester pertama
(1)
. Selama
kehamilan dan menyusui dianjurkan dosis tinggi dan dalam
waktu yang singkat
(8)
yaitu dengan metronidazol 2 g dosis
tunggal, peroral
(13)
.
Efek samping
Beberapa penderita mengeluh tidak enak atau rasa seperti
logam
(1,2,4,14,16)
. Nausea terjadi pada sekitar 10% pada pen-
derita yang menggunakan dosis 2 g
(1,2,4,11,14)
. Beberapa pen-
derita lainnya mengalami efek yang menyerupai disulfiram
(antabuse) berupa muntah, gangguan abdomen, sakit kepala,
nausea dan kemerahan pada kulit setelah meminum alkohol
selama pengobatan
(1,4,11,16,21)
. Data pada binatang, diduga ter-
dapat hubungan antara metronidazol dengan peningkatan
karsinogenesis, sedangkan pada studi epidemiologi retros-
pektif memperlihatkan bahwa metronidazol yang diberikan
pada orang dewasa dengan dosis standar tidak meningkatkan
angka kejadian kanker
(11)
.
Parestesia dan hiperalgesia terjadi pada penderita yang
mendapat metronidazol 5 g/hari selama 14 hari
(2)
, mulut
kering, diare dan gangguan abdomen kadang-kadang ditemu-
kan
(4,14,16)
. Dizziness, vertigo juga ditemukan dan sangat jarang
encephalopathy, kejang, gangguan koordinasi dan ataksia
(4)
.
Warna urin yang gelap, stomatitis, lekopenia yang reversibel
dan neuropati perifer yang ringan dan cepat menghilang
(16)
,
urtikaria, flushing, pruritus, disemia, sistitis dan terasa ada
penekanan pada pelviks juga pernah di-laporkan
(4)
.
Kontra indikasi
-
Hipersensitifitas.
-
Hamil muda.
-
Alkoholisme kronis
(12)
.
Pengobatan topikal
Pengobatan topikal merupakan pengobatan cadangan pada
keadaan nitroimidazol sistemik merupakan kontra indikasi
(1
).
· Klotrimazol, dosis 100 mg intravagina selama 6 hari
dilaporkan dapat menyembuhkan 48-66% penderita yang
ditentukan dengan kultur. Pengobatan ini dipakai untuk ke-
hamilan trimester pertama
(1,3,9)
.
· Nonoxynol mempunyai aktifitas anti trichomonas dan
dilaporkan 1 kasus terbukti efektif sebagai pengobatan topikal
terhadap strain Trichomonas vaginalis dengan resistensi tinggi
terhadap metronidazol
(1)
.
· Povidon iodine douche terbukti dapat digunakan untuk
pengobatan Trichomonas vaginalis yang resisten terhadap
metronidazol. Pengobatan ini harus dihindari pada kehamil-an,
karena peningkatan kadar serum iodine dapat menekan per-
kembangan tiroid fetus
(1,22)
.
Pengobatan lainnya
·
·
·
·
·
·
Nimorazol dilaporkan sama efektifnya dengan metro-
nidazol dan diberikan dengan dosis 3 x 250 mg/hari, peroral
selama 7 hari
(8)
, dapat pula diberikan 2 g dosis tunggal
(8,21)
atau
2 x 1 g dalam waktu 24 jam, angka keberhasilannya 80-90%
(8)
.
Beberapa turunan nitroimidazol lainnya yaitu tinidazol,
ornidazol, carnidazol dan secnidazol semua memberikan hasil
yang baik dengan dosis tunggal 2 g peroral dan ornidazol juga
efektif dengan dosis tunggal 1,5 g
(8)
.
Vaksinasi untuk imunisasi aktif terhdap trikomoniasis
sudah dipasarkan di Eropa. Vaksin ini berisi aberrant lacto-
bacilli yang mati, diisolasi dari wanita dengan trikomo-
niasis
(1)
.
KESIMPULAN
Trikomoniasis masih merupakan masalah pada penyakit
menular seksual.
Diagnosis pasti trikomoniasis adalah dengan menemukan
organisme penyebabnya yaitu Trichomonas vaginalis melalui
sediaan langsung atau kultur.
Hingga saat ini metronidazol masih merupakan obat
pilihan untuk trikomoniasis.
KEPUSTAKAAN
1.
Krieger JN, Alderette JF. Trichomonas vaginalis and trichomoniasis. In:
Holmes KK, Mardh PA, Sparling PF, et al (eds). Sexually transmitted
diseased. 3
rd
ed. New York: McGraw-Hill, 1999: 587-604.
2.
Lossick JG, Muller M, Gorell TE. In vitro drug susceptibility and doses of
metronidazol required for cure in cases of refractory vaginal
trichomoniasis. J Infect Dis 1986; 153 (5): 948-55.
3.
Rein MF. Uncertainties and controversies in trichomoniasis. In: Sobel JD,
ed. Vulvovaginal infections current concepts in diagnosis and therapy.
New York: Academy Professional Information Service, 1990: 73-85.
4.
Webster LT. Drugs used in the chemotherapy of protozoal infectious. In:
Goodman LS, Gilman A, eds. The pharmacological basic of the
therapeutics. 8
th
ed. New York: Pergamon Press, 1990: 999-1007.
5.
Korner B, Jensen NK. Sensitivity of trichomonas vaginalis to
metronidazole, tinidazole and nifurated in vitro. British J Venereol Dis
1976; 52: 404-8.
6.
Ralph ED, Darwish R, Austin TW, Smith EA, Pattison FLM.
Susceptability of trichomonas vaginalis strains to metronidazole: response
to treatment. Sex Trans Dis 1983; 10 (3): 119-22.
7.
Lossick JG. Treatment of intactable vaginal trichomoniasis. In: Horowitz
BJ, Mardh PA, eds. Vaginitis and vaginosis. New York: Wiley-Liss, 1991:
215-20.
8.
King A, Nicol C, Rodin P. Venereal diseases. London: Bailliere Tindall,
1980.
9.
Bryceson ADM, Hay RJ. Parasitic worms and protozoa. In: Champion
RH, Burton JL, Burns DA, Breathnach SM, eds. Rook/Wilkinson/Ebling
textbook of dermatology. 6
th
ed. London: Blackwell Science, 1998: 1377-
422.
10.
Muller M. Trichomonas vaginalis and trichomoniasis. In: Horowitz BJ

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS